My Daughter The Flower 제 딸이 꽃 || Chapter 1

Gambar

Title: My Daughter The Flower 제 딸이 꽃

 

Main Cast: –Shin Hye Kyung a.k.a DheAjheng Ophy Alanuviracuitcuit

                  -Shin Min Chul(OC)

                  -Shin Je Woo a.k.a Shin Je Wo

                  -Shin Young Ah (OC)

                  -Kim Ryeowook Super Junior

                  -Choi Siwon Super Junior

                  -Other Cast

 

Genre: Angst, Familly, Romance

 

Author: ophie ryeosomnia a.k.a shin hye kyung (istri syah, dan istri pertama sekaligus istri terakhir dari kim ryeowook)

Disclaimer: Ryeowook is Mine^^ and This FF is Mine Too. Don’t Bashing Don’t Plagiat, dilarang Copas sembarangan!!

Facebook: DhAjheng Ophy Alanuviracuitcuit

Twitter: @ophiie_unyu

Rated: PG-15

Leght: Chapter

Chapter: 1 of?

 

Soundtrack:-Suzzy “MISS A” ‘Winter Child’

cover: Novin Aresta

—–ooo—–

 

Jika selama hidupku hanya membuat beban untukmu, maafkanlah aku, Jika selama hidupku selalu membuatmu marah, ampunilah aku, mungkin aku hanya tak bisa memahami, bagaimana cara membuatmu bahagia, aku hanya ingin menjadi yang Terbaik Untukmu APPA^

-SHIN HYE KYUNG-

Hye Kyung POV~

Aku segera menghambur keluar saat ku dengar suara bel pulang sekolah, ku lewati gerbang sekolah dengan tersenyum, berjalan ke selatan menelusuri jalanan kota Seoul yang cukup ramai, ku tarik sedikit tas yang ku gendong, rasanya ingin segera sampai ke rumah.

Namaku, Shin Hye Kyung, panggil saja Kyungie, begitulah orang-orang terdekatku memanggilku, aku dilahirkan 17 tahun yang lalu, dari sebuah keluarga yang bisa dibilang cukup mapan. Appa ku Shin Min Chul, memiliki beberapa Departement Store di Korea dan juga beberapa di Luar Negeri. Memiliki ke 2 orang tua yang masih utuh adalah sebuah anugerah tersendiri untukku, ditambah dengan seorang Eonni yang sangat menyayangiku Shin Je Woo namanya.

Ku rebahkan tubuhku saat sampai di kamarku yang cukup besar ‘fiiuuuiih’ ke seka keringat yang sedikit muncul di sekitar wajahku, aku menengok(?) ke samping tempat tidurku melihat sebuah calender terduduk manis di meja, ku ambil calender itu dengan senang dan menatapnya 7 Juni hari ini, bertepatan dengan ulang tahun Appa, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya, meskipun aku tidak yakin Appa akan menerimanya.

Ku buka lemari kaca di kamarku, sebuah kotak terbungkus kertas berwarna biru dengan motif kotak-kotak, aku membukanya, lalu mengambil isinya sebuah sapu tangan berwarna biru shapire polos namun di sudut sebelah kanan sapu tangan itu terdapat tulisa ‘saingel Chukkae Hamnida Appa’ tulisan itu kurajut dengan tanganku sendiri, berharap appa akan menyukainya, meskipun tahun lalu appa tidak mau menerima hadiahku, sebuah jam tangan yang aku beli dengan uang tabunganku sendiri, aku tidak tahu kenapa appa tidak mau menerimanya? Tak terasa kurasakan sedikit asin menyentuh bibirku, aku menangis? Astaga? Kenapa aku cengeng seperti ini?.

“Kyungie”. Seseorang membuka pintu kamarku dan menyeruak(?) masuk menemuiku “kau menangis?”. tanya je Wo eonni mungkin melihat butiran bening disudut mataku.

Dengan cepat aku menggeleng dan mengusap mataku “aku kelilipan eonnie”. ujarku berbohong dan tersenyum padanya.

Dia tersenyum lalu mengelus rambutku pelan “tidak perlu berbohong padaku”. dia menatap kedua manik mataku, namun sesaat kemudian matanya sudah beranjak menyusuri benda yang tengah berada di genggamanku “apa ini?”. dengan cepat dia mengambil sapu tangan itu dari tanganku “sangiel Chukkae hamnida appa” ucapnya membaca tulisan yang berada di sapu tangan itu, lalu dia menatapku “apa ini kado untuk appa?”. dia menyipitkan matanya yang memang sudah sipit(?) aku mengangguk, dia terkekeh pelan “kau menangis karena inikah?”. dia masih menatapku dengan beribu pertanyaan di wajahnya, aku tidak menjawab, lalu dia memelukku hangat “appa pasti akan menyukainya dia menyayangimu percayalah”. dadaku rasanya sesak mendengar kata-katanya tak kuasa lagi aku membendung air mataku, akhirnya air mata itupun jatuh ke bahu Je Wo eonnie.

—–000—–

Aku masih terduduk di tempat tidur di kamarku, sekilas aku melirik jam tanganku yang menunjukan pukul 7 malam waktu Seoul. Sudah sejak tadi sore rumah ini sangat ramai, kurasa rekan-rekan appa telah datang ‘apakah aku harus turun? Atau tetap disini? Apakah appa tahu kalau aku tak ada disana? Apakah dia akan memanggilku?’ beribu pertanyaan menyumbul(?)dari fikiranku.

“kyungie”. Je Wo eonnie tersenyum masuk ke kamarku “semua orang menunggumu, acaranya akan segera di mulai, palli”. dia menarik lembut tanganku dan membawaku turun.

Ku lihat banyak sekali orang-orang yang tak aku kenali, namun aku mengenali wajah mereka, mereka selalu datang setiap perayaan ulang tahun appa. Aku tersenyum ramah pada seorang namja yang menyambutku dan Je Woo eonnie.

Annyeong Kyungie apa kabarmu?” dia tersenyum ramah padaku. Aku membungkuk dan tersenyum padanya.

annyeong oppa, aku baik”. dia Choi Siwon, anak salah satu rekan bisnis appa, aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, wajahnya yang tampan pastilah membuat semua yeoja meleleh(?) dibuatnya, badannya yang sixpact mampu membuat semua yeoja mengidolakannya, senyumnya yang omo~ sangat berwibawa menunjukan betapa berkarismanya dia, terlebih dia adalah anak dari keluarga Choi yang cukup terkenal di Korea.

“sudahlah chagi, jangan mengajak dongsaengku ini mengobrol, dia harus bersiap untuk bernyanyi” aku tersentak mendengar ucapan Je Wo eonnie, ‘apa katanya? Chagi? Apa maksudnya?’ belum sempat aku menanyakan kejelasan itu, Je Wo Eonnie sudah meanarikku menjauh dari Siwon oppa. Kami mendekati panggung dan Je Wo eonnie berbicara dengan para crew yang berada tidak jauh dari ku.

khamsahamnida” hanya kata itu yang bisa aku dengar dari pembicaraan mereka kini dia mendekatiku “dengar Kyungie, menyanyilah dengan baik malam ini untuk appa, arasheo?”. dia berlalu sebelum aku sempat mencegahnya “hufft” aku mendesah pelan.

“nonna, kemarilah anda harus cek sound”.salah seorang crew memanggilku, aku pasrah, tak ada gunanya juga aku menolak.

Aku berdiri disebuah panggung yang cukup luas bagiku. Sedikit perasaan tak menentu dihatiku, terlihat Je Wo eonnie tersenyum menyemangatiku. Musik mengalun indah, mataku terus mencari seseorang yang akan ku persembahkan lagu yang akan ku bawakan ini.

*ini lagunya Suzzy Miss A yang di Dream High Winter A child*

Gyeoure taeeonan…

areumdaun dangshineun….

Nun cheoreom kkaekkeuthan…

namaneui dangshin…..

(aku mulai bernyanyi)

Gyeoure taeeonan

sarangseureon dangshineun

Nun cheoreom malgeun

namaneui dangshin

(mataku menangkap seseorang, Appa, dia lah orang yang kucari)

Hajiman bom yeoreumgwa gaeul gyeoul

(aku tersenyum menatapnya)

Eonjena.. malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan….

areumdaun dangshineun

Nun cheoreom kkaekkeuthan

namaneui dangshin

Hajiman bom yeoreumgwa gaeul gyeoul

Eonjena.. malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan

areumdaun dangshineun

Nun cheoreom kkaekkeuthan

namaneui dangshin

Saengil chukha hamnida

Saengil chukha hamnida OOH

Saengil chukha hamnida

Dangshineui saengireul

(appa nampak terkejut, tapi dia tidak tersenyum)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

(Happy birthday to you) Happy birthday to you

(Happy birthday to you) Happy birthday to you~

(Happy birthday to you) Happy birthday to you~

(Happy birthday to you)

(appa berlalu dari tempatnya)

Saengil hukkae Hamnida appa” ucapku sebelum suaraku tenggelam oleh beribu tepuk tangan dari tamu-tamu appa. Aku turun dan langsung di sambut oleh Je Wo eonnie.

“suaramu sangat indah” dia memelukku

gomawo eonnie” ku rasa aku menangis. Kenapa appa tidak menyapaku? Dia bahkan berlalu begitu saja? Tuhan apa aku salah? Aku hanya ingin appa menyayangiku juga. Menyayangiku seperti dia menyayangi Je Wo eonnie.

—–000—–

Aku terbangun saat mendengar ribut-ribut di luar kamarku. Ku lirik jam disamping kepalaku masih pukul 4 pagi. Aku bangkit dan mencuci muka ku di kamar mandi. Terdengar kembali suara ribut-ribut dari luar kamarku. Aku mendekati pintu kamarku dan mendekatkan telingaku.

wae appa? Setidaknya appa menghargai usaha Kyungie untuk membuat ini” itu suara Je Wo eonnie ada apa? Kenapa dia menyebut namaku? Aku membuka sedikit pintu kamarku melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“sudahlah Je Wo appa sedang tidak ingin membahasnya”. ku lihat Appa berlalu meninggalka Je Wo eonnie namun Je Wo eonnie mencegahnya.

“katakan padaku. Apa yang appa sembunyikan dariku?”

anni, tidak ada yang appa sembunyikan” appa berlalu masuk kekamarnya meninggalkan Je Wo eonnie. Aku keluar kamarku dan mendekati Je Wo eonnie yang masih berdiri di tempatnya.

“eonnie?”. sapaku setengah berbisik kepadanya. Dia menatapku kaget, ku alihkan pandanganku pada tangannya yang memegang sapu tangan berwarna biru shapire. Cham, bukankah itu sapu tangan buatanku untuk appa? Je Wo eonnie segera menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya, aku menatapnya.

“apa appa menolaknya?”. tuntutku dengan suara yang cukup sesak. Jujur aku sedikit sakit melihat sapu tangan itu. Apakah kali ini appa juga menolak hadiahku? Seperti tahun-tahun sebelumnya?

“annia.. ini hanya..”

“sudahlah eonnie biar aku buang saja sapu tangan itu”. aku merebut paksa saputangan dari Je Wo eonnie lalu berlari kekamarku.

“Kyungie, tunggu”. Je Wo eonnie langsung memelukku, aku menangis, dipelukannya. Benarkah appa tidak mau menerimanya? Rasanya sesak sekali mengetahuinya? Bayangkan hanya hadiah darimu yang tidak diterima oleh appa mu? Apa yang kau rasakan? Sakit bukan?.

“wae eonnie? Wae? Appa selalu menolak semua pemberian dariku? Tapi dia tidak pernah menolaknya darimu? Dia menyayangimu, sangat menyayangimu, tapi aku? Sepertinya appa tidak pernah menyayangiku? Bukankah aku juga anak appa? Kenapa appa tidak pernah menganggapku ada eonnie? Kenapa?”. Aku menangis keras dipelukannya, Je Wo eonnie juga sepertinya menangis.

“appa menyayangimu Kyungie, appa sangat menyayangimu, percayalah”.

“aku tidak percaya, mana mungkin Appa menyayangiku tapi tidak pernah menganggapku ada”

“kau tidak boleh berbicara seperti itu, dengar”. Je Wo eonnie mengangkat wajahku menghadapnya “percayalah, appa sangat menyayangimu, bahkan lebih dari dia menyayangi eonnie, buatlah dia bangga padamu, kau mengerti?”.

Sekali lagi kekuatan itu datang saat Je Woo eonnie meyakinkanku. ‘appa menyayangimu’ itulah kata-kata yang selalu terlontar darinya saat aku sudah berfikir bahwa aku bukan anak appa.

Dia lah alasan aku masih tinggal disini, ditengah-tengah keluarga yang sangat dingin padaku. Appa, tidak pernah memandangku sedikitpun. Eomma dia bahkan lebih terlihat seperti eomma tiri. Terkadang aku berfikir aku memang bukan bagian dari keluarga ini. Seandainya Je Wo eonnie bersikap dingin seperti mereka mungkin aku juga sudah pergi dari rumah besar ini.

Selama 17 tahun hidupku tidak pernah sedikitpun eomma menghawatirkanku, atau appa menyapaku meskipun kami tinggal dalam 1 rumah. Berbeda dengan Je Wo eonnie. Hampir setiap hari Eomma selalu memberi perhatian ekstra padanya. Pernah suatu saat eomma bahkan memukulku karena sesuatu terjadi pada Je Woo eonnie.

FlasBack

Pagi itu Je Wo eonnie mengantarkan aku kesekolah. Saat sampai disekolah dia menyuruhku untuk tetap di mobil dan biar dia yang akan membukakan pintu untukku.

“kau diamlah, biar eonnie yang akan membukakan pintu untukmu”. Aku mengangguk dan Je Wo eonnie keluar dari dalam mobil, baru saja pintu mobil tertutup, tiba-tiba terdengar suara sempritan(?) mobil yang cukup keras membuatku seketika mengalihkan pandanganku, Je Wo eonnie berputar kedepan dan jatuh tepat didepan mobil yang kutumpangi, sedangkan sebuah mobil ferari silver berhenti beberapa meter di hadapan mobilku.

Aku menegang melihat pertunjukan live dihadapanku, beberapa orang yang berdomisili memakai seragam langsung mengerubuni kedepan mobilku, dengan sedikit shock yang masih terasa, aku keluar mencoba melihat dengan jelas.

Kakiku melemas seketika melihat Je Wo eonnie berbaring lemas di hadapanku dengan darah yang mengucur pelan dari dahinya. “eonnie……”. aku menjerit tanpa sadar, merengkuh tubuhnya yang sedikit lebih besar dariku, membawanya kedalam pangkuanku, membiarkan darahnya bercampur mewarnai seragamku yang berwarna putih.

“mianhamnida, aku lepas kendali aku…..”. aku mendelik kepada seorang namja di hadapanku, dia memakai setelan jas abu-abu, sepertinya dia yang tadi mengendarai mobil yang menyerempet Je Wo eonnie. “kita harus membawanya ke rumah sakit ppali”. Namja di hadapanku segera membawa Je Wo eonnie dalam gendongannya dan memasukkan kedalam mobil ferari miliknya.

Aku duduk gusar memangku Je Wo eonnie yang masih belum sadarkan diri, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Air mataku semakin deras membasahi pipiku, aku salah, seharusnya Je Wo eonnie tidak keluar tadi.

“Jeongmal Mianhamnida”. Namja yang tengah mengendarai mobil yang kutumpangi tak berhenti meminta maaf sejak tadi, wajahnya tak kalah khawatir dariku.

—–ooo000ooo—–

Aku duduk di sebuah bangku panjang didepan ruangan ICU, sudah sejak 30 menit yang lalu belum ada tanda-tanda keluarnya uisa dari dalam kamar ICU dimana Je Wo eonnie berada. Namja yang menabrak Je Wo eonnie berjalan mondar-mandir di depanku dengan melipat tangannya didada, dan sesekali menyandarkan dirinya di tembok di samping bangku panjang yang tengah aku duduki.

“sillyejiman, seonghami eotteoke doesimnikka?”. Aku mendongakkan wajahku menatap namja di hadapanku. “je ireumeun Siwon imnida”. Lanjutnya mengulurkan tangannya kehadapanku, Aigo~ aku sampai lupa menanyakan namanya.

“jeoneun Kyungie rago hamnida”. Ucapku menyambut uluran tangannya.

“mianhamnida, aku benar-benar tidak sengaja menyerempetnya”. Ujar namja dihadapanku ini, dia tersenyum untuk yang pertama kalinya.

“Kwen chan seumnida”. Jawabku sedikit parau karena menangis, bagaimanapun ini bukan mutlak kesalahannya.

“Yak! Shin Hye Kyung, apa yang terjadi”. Eomma menghampiriku dengan Halmoni yang menemaninya.

“eomma, Je Wo eonnie”.

PLAK

Tangan eomma mendarat mulus dipipi kananku, perih, tapi bukan karena tamparan ini, melainkan karena sikapnya, sikap eomma yang tidak pernah menunjukan kasih sayangnya padaku, sikap eomma yang tidak pernah menghawatirkanku sampai seperti ini, seperti yang dia lakukan pada Je Wo eonnie.

“Mianhamnida ahjumma, aku yang bersalah, aku yang tidak sengaja menyerempet anak anda, Jeongmal mianhamnida”. Siwon –namja yang berada di sampingku- mencoba membelaku sepertinya.

Aku kembali mengeluarkan air mata dari pelupuk mataku, merasakan sakit yang begitu dalam didadaku, tidak bisakah eomma membicarakan ini baik-baik? Tidak bisakah dia mendengar penjelasanku.

“Jika hal buruk terjadi pada putriku, aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia Shin Hye Kyung”.

JEDEEEERRRR

Serasa terkena Sambaran petir mendengar penuturan eomma, sampai begitukah dia akan memperlakukanku? Sejauh itukah dia kan menghukumku? Apa dia lupa kalau aku-pun anaknya, sama seperti Je Wo eonnie, aku-Pun darah dagingnya, yang dia kandung selama 9 bulan dan dia lahirkan dengan bertaruh nyawa?. Tubuhku melemas, penglihatan dan pendengaranku melemah seketika bahkan aku sudah tidak terlalu mendengar beberapa derap langkah dari orang yang berlalu lalang disampingku, membiarkanku larut dalam pikiranku sendiri, membiarkan pikiran ini menerawang mencerna atas semua kata-kata eomma, apakah mungkin aku bukan anak mereka? Sampai mereka begitu membedakan antara aku dan Je Wo eonnie?

.

.

.

.

To Be Continued

haiiii *melambai ala miss Univers* XD gg mau banyak cuap, sebenernya ini FF lama ku yak, tadinya mau aku ikutin lomba salah satu page, berhubung persyaratannya musti oneshoot, dan aku gg bisa buat FF oneshoot, alhasil gg aku ikutin deh! 😛

pkoknya yang kena tag, wajib coment, coment apa ajah, aku gg sembarang ngetag lo yah, aku ngetag orang-orang yang aku sayang *kissue readers satu-satu 😛 yang selalu muncul di FF ku, yang selalu kasih Coment banyak di FF ku, terimakasih buat kalian ^_^ *tebar oppadeul, kecuali Ryeowook, Donghae, Kyuhyun, Eunhyuk, Yesung*

Salam cinta

Istri syah Kim RYEOWOOK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: