Litlle Angel [Chap 6]

Gambar

Title: Litlle Angel

 

Cast: -Choi Siwon

          -Kim Hyena a.k.a Oktavia Juyanti

          -Choi Sinha a.k.a Angel

 

Suport Cast:-Kim Ryeowook

                       -Shin Hye Kyung a.k.a DheAjheng Ophiie Alanuviracuitcuit

                      -Lee Donghae

                      -Choi Jihwa a.k.a Faridah The-Puff Sii Belahanjiwa Nounna-nyuaaStefan

 

                     -Nam Woohyun

                      -Im Yoona         

 

Author: Ophiie Ryeosomnia a.k.a Shin Hye Kyung (istri syah dan istri pertama sekaligus istri terakhir dari Kim Ryeowook)

 

Leght: 6 Of

 

Genre: Romance, Angst

 

Rated: PG-15

 

Disclaimer: Ryeowook is Mine^^ & this FF is MINE too, Don’t Plagiat Don’t Copas sembarangan dilarang Bashing^^

 

Soundtrac: Davichi_Sad Promise

 

——oooOOOooo——

Sambil melihatmu yang menjadi dingin

aku sudah menyadari tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi perpisahaan yang semakin dekat.

Sebagaimana cinta semakin menyelimuti kita,

aku tidak menyadari cinta pun pergi seperti itu.

——-oooOOOooo——-

=====>Last Story

“Hyena” Hye-kyung merengkuh bahu Hyena dan memaksanya menatap Hye-kyung “apa kau masih mencintainya?” Hyena diam tak menjawab “eonnie akan mengatakan sesuatu padamu, tapi eonnie mohon, kau harus percaya semua yang di lakukna oppa mu dan eonnie semata-mata untuk kebahagiannmu, percayalah oppa dan eonnie hanya ingin yang terbaik untukmu, kami tidak ingin masa depanmu hancur.” Hye-kyung menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya “sebenarnya, putrimu belum meninggal, dia masih hidup”………….

.

.

.

.

.

.

Chap 6

 

~Story Begining~

Hyena PoV~

 

“sebenarnya putrimu belum meninggal, dia masih hidup”. Ucapan Hyekyung eonnie benar-benar membuatku tercengang, bagaimana mungkin dia mengatakan anakku masih hidup sedangkan dia sendiri yang dulu mengajakku kemakamnya.

“jangan bercanda eonnie, aku tidak akan terhibur dengan lelucon eonnie”. Ucapku tertahan, bagaimanapun aku selama ini telah menganggap anakku meninggal.

“dengarkan eonnie Hyena, mianhae, tapi berjanjilah jangan sampai membenci oppa mu, percayalah apapun yang dia lakukan itu semua demi kebaikanmu”. Hyekyung eonnie menghela nafas panjang. “semua berawal saat kau melahirkan bayimu”.

Flash Back

 

HyeKyung PoV~

Ini sudah minggu ke 3 aku berada disini. Berada di sebuah rumah kecil di pedesaan yang cukup sepi dan jarang penduduk. Aku menemani Hyena yang tengah hamil tua(?). miris melihatnya yang semakin hari semakin kehilangan semangatnya. Bagaimanapun ini semua bukan mutlak kesalahannya, Choi Siwon seharusnya ada disini, menemani Hyena yang tengah mengandung anaknya. Tidakkah dia tahu Hyena sangat membutuhkannya saat ini?.

“eonnie… eonnie…”. aku berhenti dari kegiatan memasakku saat mendengar suara teriakan dari kamar Hyena, segera aku berlari menuju kamarnya. Dia tengah terduduk lemas di samping ranjangnya sambil memegangi perutnya yang membuncit(?) sempurna.

“Wae Hyena~a”. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku bukan seorang yang berpengalaman dalam hal ini, dan lagi, umurku tidak jauh lebih tua darinya, Aissh bagaimana ini.

“perutku eonnie, sakit sekali”. Dia terus memegangi perutnya dan bernafas tersendat(?). keringat dingin mengucur di wajahku. Bagaimana ini? Sepertinya dia akan melahirkan, tapi apa yang harus aku lakukan?.

“chamkaman Hyena, aku menelpon oppa mu, ne.” Aku berlari kekamarku dan segera menelpon Ryeowook oppa yang masih berada di Seoul.

“oppa, sepertinya Hyena akan melahirkan, ottoehkae aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Tanpa basa-basi aku langsung menyerocos(?).

“mwo? Jijja? Ne, aku akan segera kesana, kau bantu dia supaya tenang, aku akan membawa dokter dari sini”. Segera aku berlari kembali kekamar Hyena yang masih terus meronta.

“Hyena, sabar, sebentar lagi oppa mu akan datang.” Ucapku menenangkan Hyena.

“ini sakit sekali eonnie”. Hyena menggenggam erat tanganku menyalurkan rasa sakitnya melalui genggaman tangan kami. Keringatnya mengalir dengan deras.

Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkannya seperti ini.

35 menit berlalu akhirnya sebuah mobil ku dengar menepi dihalaman rumah kecil yang aku dan Hyena tinggali ini.

“Hyekyung, Hyena.” Itu suara Ryeowook oppa.

“oppa kami disini.” Aku tidak bisa berdiri karena Hyena masih menggenggam tanganku erat.

Ryeowook oppa masuk bersama seorang yeoja memakai jas berwarna putih, yang aku yakini yeoja ini pastilah seorang dokter. Dengan cekatan Ryeowook oppa menggendong Hyena dan merebahkannya di atas tempat tidur.

“mianhae agashi, bisa aku meminta sedikit air hangat? Dan tuan tolong keluar.” Tanpa aba-aba aku segera berlari kedapur dan kembali dengan membawa air hangat yang yeoja itu minta. Terlihat Hyena masih mengerang kesakitan, dan yeoja itu menyuntikkan(?) sesuatu pada tangan Hyena, entahlah itu apa. “agashi, bisa kau tinggalkan kami?.” Aku sedikit ragu, namun akhirnya aku pun keluar dan mendapati Ryeowook oppa sedang berjalan mondar-mandir didepan kamar tempat persalinan Hyena.

“ottoehka?.” Serbunya saat melihatku keluar. Aku mengedikkan bahuku, dia terlihat pucat dan kembali berjalan disekitar ruangan didepan kami.

Tidak berselang lama, suara tangisan seorang bayi terdengar dari kamar dan itu membuatku dan Ryeowook oppa saling bertatapan, aku tersenyum namun dia tidak.

Yeoja yang membantu persalinan Hyena pun keluar, dia membawa seorang bayi yang masih dipenuhi dengan darah disekujur tubuhnya.

“ini bayinya tuan.” Yeoja itu memandang Ryeowook, tatapn matanya seolah bertanya ‘apa yang harus aku lakukan dengan bayi ini?’.

“mandikanlah.” Ryeowook oppa masuk tanpa menghiraukan suara tangisan bayi yang cukup menyita perhatianku.

Aku mengikuti uisa yang sedang memandikan bayi yang sekarang sudah lebih bersih.

“cantik sekali.” Gumamku tanpa sadar.

“ne, memang cantik.” Uisa tersenyum kepadaku.

matanya hidungnya itu jelas milik Siwon, tapi halis dan bibirnya itu adalah Hyena, perpaduan yang sangat indah menurutku.

“kau ingin menggendongnya agashi”.

“ne?” uisa menyerahkan bayi kecil itu dihadapanku. Dengan senang hati aku meenggendongnya. “anyeong chagi, ini imo~, kau lihat kau sangat cantik.” Aku mengecup pelan pipinya yang sangat putih bersih itu.

“apa sudah selesai?”. Ryeowook oppa sudah berdiri di ambang pintu yang memisahkan kamar mandi dan ruang dapur.

“ne tuan”. Uisa mengangguk ke arah Ryeowook oppa yang sama sekali tidak memandang bayi yang sedang ku gendong ini.

“aku sudah menelpon ambulanc, dan ini bayaranmu uisa, kapan dia akan sadar?.” Tanya Ryeowook oppa membuatku mengernyitkan dahiku.

“besok pagi baru sadar tuan.” Ucap uisa dan meraih amplop dari tangan Ryeowook oppa.

“bagus, kau kembalilah ke Seoul dengan ambulanc nanti dan urus semuanya di sana”. Ryeowook oppa kini menatapku “kajja ikut denganku”. Dia berlalu tanpa memandangku lagi. Aku mengikutinya dan kami memasuki mobil.

“kita akan kemana oppa?”. Aku masih tidak mengerti dengan maksudnya membawaku dan bayi ini pergi, sedangkan meninggalkan Hyena yang masih belum sadarkan diri.

“jangan banyak bertanya.” Dia terus melajukan mobilnya.

Bayi yang ada dalam gendonganku menangis, cukup jauh perjalanan yang kami tempuh, mungkin dia lapar atau haus, atau entahlah, yang aku yakini dia membutuhkan eommanya.

“oppa sebaiknya kita kembali, lihat sepertinya dia membutuhkan eommanya.” Ucapku sambil terus berusaha menenangkan bayi ini.

“kau coba tenangkan dia.”ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.

”tapi apa yang harus aku lakukan? Kau tidak bermaksud untuk membuang bayi ini bukan?.” Tanyaku membuat sedikit wajahnya kaget, dia tidak memperdulikanku.

Kami berhenti disebuah Panti Asuhan di Seoul.

“oppa.” Aku memandangnya yang kini tengan melepas sabuk pengamannya. “jangan bilang kau benar-benar akan membuang bayi ini.” Aku tidak mengalihkan pandanganku darinya.

“kemarikan.” Dia meminta bayi yang masih berada dalam gendonganku.

“shireo, apa yang akan kau lakukan dengannya?.”

“kemarikan bayi itu Shin Hye Kyung.”

“Shireo! Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya.”

“ck.” Dia berdecak, kesal sepertinya “kemarikan bayi itu chagi, ku mohon, apa kau ingin melihat Hyena hancur? Kau ingin melihat masa depannya hilang hanya gara-gara bayi sialan ini?”. Dia memandangku iba. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku menatap bayi yang tengah tertidur digendonganku.

“chagi, kumohon, aku hanya tidak ingin melihat Hyena menderita aku hanya ingin yang terbaik untuknya, kau bayangkan, gadis seusianya harus kehilangan masa depannya hanya karena bayi ini? Harus menjadi Single parent diusia semuda itu? Cepat serahkan bayi itu.” Kata-katanya penuh dengan penekanan, membuat aku sedikit lengah dan dengan sigap dia mengambil bayi itu dari tanganku.

“oppa.” Aku kaget saat dia sudah akan membuka pintu mobilnya.

“diamlah disitu, aku tidak akan lama.” Dia keluar dan masuk kehalaman Panti Asuhan lalu meletakkan bayi yang bahkan belum sempat bertemu dengan eommanya.

—–ooo—–

“kau hanya harus mengikuti alur cerita ini.” Ucapnya saat kami kembali ke sebuah rumah sakit tempat Hyena dirawat.

Ternyata Ryeowook oppa bahkan sudah menmbuat sebuah cerita yang sangat luar biasa. Dia sengaja menyuruh uisa membius Hyena lalu membawa Hyena ke rumah sakit. Menyuruh orang-orangnya membuat sebuah gundukan kecil yang dia sebut sebagai makam anak Hyena, berpura-pura sedih, mengarang semua cerita bak’ seorang penulis profesional. Sengaja membawa Hyena ke rumah sakit dan mengatakan kalo dia pendarahan sehingga bayinya tidak bisa diselamatkan. Ck, dia bahkan lebih bisa berakting dibandingkan aktor-aktor yg sudah profesional.

Flasback End

 

Hyena Pov~

Jadi? Ini semua hanya kebohongan yang dilakuka oleh oppaku sendiri? Air mataku terus mengalir mendengarkan semua kebenaran yang sedang diungkapkan oleh Hyekyung eonnie.

“mianhae, saat itu eonnie tidak bisa melakukan apapun.” Hyekyung eonnie menyeka airmatanya.

“wae eonnie? Kalian semua membohongiku? Membuat sebuah makam palsu? Memisahkan aku dan anakku? Dimana perasaan kalian eoh? Sekarang eonnie bayangkan kalau eonnie menjadi aku? Apa yang eonnie rasakan? Dipisahkan dengan anak yang sudah selama 9 bulan eonnie kandung? Bayangkan eonnie.” Ini pertama kalinya aku membentaknya, dia memeluk tubuhku yang bergetar.

“mianhae Hyena-a, mianhae.” Dia terisak dan begitupun aku “tapi percayalah ini semua kami lakukan untukmu, untuk kebaikanmu.” Aku masih belum bisa menjawabnya. Ku biarkan bibirku ini terisak menangis.

“Dengar,” Hyekyung eonnie memegang wajahku dan hingga menatapnya. “carilah anakmu, di sebuah panti Asuhan namanya……..?”. Hyekyung eonnie nampak berfikir.

“apa nama panti asuhan itu eonnie, jebal katakan padaku.”

“Angel heart”. *Itu nama minyak wangi! Kekekek*

“dimana alamatnya?”.

“eonnie lupa, itu 5 tahun yang lalu.” Aku menunduk frustasi. Tidak mungkin aku mengecek(?) semua nama panti asuhan yang ada di Seoul. “kalau kau masih mencintai Choi Siwon, kau bisa gunakan alasan itu untuk lepas dari Woohyun, setidaknya untuk mengetahui seberapa besar cintanya padamu?”. Aku mengangguk benar juga apa yang dikatakan Hyekyung eonnie.

“tapi apa yang membuatku bisa mengenali anaku?”.

“saat sebelum Ryeowook oppa mengambilnya dariku, aku sempat menyelipkan(?) kalungmu yang bertuliskan ‘Sinha’ dan sebuah tanda lahir berbentuk bulan sabit di bagian tenguk belakangnya, kau pasti menemukan anakmu.”

Aku memeluknya “gomawo eonnie, aku pasti akan menemukan putriku”. Aku mencium pipinya dan berlalu.

—–ooOOoo—–

“oppa sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu.” Woohyun oppa mendelik menatapku.

“apa maksudmu? Pernikahan kita kurang 6 hari lagi dan kau akan membatalkannya?”.

“mianhae oppa, tapi aku tidak bisa menikah sebelum aku menemukan putriku.” Aku masih menunduk tidak berani menatapnya.

“apa lagi ini? Bukankah putrimu sudah meninggal? Lalu sekarang kau bilang?.”

“mianhae oppa, aku juga baru mengetahuinya tadi siang, Hyekyung eonnie yang memberitahuku.”

Kudengar desahan pelan darinya, aku sama sekali tidak berani menatapnya.

“Hyena”dia menggenggam tanganku membuatku menatapnya. “aku mencintaimu, kau tahu itu bukan? Aku tidak pernah memandang apapun untuk mencintaimu, kita akan mencari anakmu bersama, jangan katakan kau ingin membatalkan pernikahan kita. Karena aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan menunggu sampai kita akan menemukan anakmu, aku tidak akan meninggalkanmu.” Well air mataku runtuh seketika. Begitu tuluskah hatimu padaku oppa?  Aku benar-benar merasa bersalah kini. Kenapa kau tidak membenciku?

Setelah hari itu aku dan Woohyun oppa terus mencari keberadaan panti asuhan tanpa alamat. Aku menyandarkan punggungku di sandaran jok(?) mobil Woohyun oppa. Dia sedang membeli minum di luar. Ini sudah hari ke 3 pencarian kami. Namun sama sekali kami belum menemukan dimana letak panti asuhan itu. Selama ini pula aku di Seoul. Tidak tahu bagaimana kabar Angel, Siwon oppa, aku merindukan mereka. Huft, entahlah, disaat seperti ini aku sangat merindukan Angel.

“minumlah chagi, kau pasti lelah.” Woohyun oppa memberikanku sebuah botol air minum dan aku tersenyum menerimanya?

“harus kemana lagi kita mencarinya oppa?.” Aku memandang lurus ke arah jalan raya dihadapanku. Ingin rasanya aku menyerah.

“jangan menyerah seperti itu, kita pasti akan menemukannya, ne.” Dia mengacak pelan rambutku. Ya Tuhan kenapa dia bersemangat seperti itu. Sekarang aku merasa benar-benar bersalah padanya.

“sebenarnya seperti apa panti asuhan itu? Kira-kira besar atau kecil? Apakah terdaftar di internet?.”

“bingo! Kenapa tidak terfikirkan kesana?.” Ucap Woohyun oppa lalu mengambil i-Phone nya dan kami memulai browsing.

—–ooo—–

Disinilah sekarang kami berdiri. Didepan sebuah panti asuhan.

“hwaiting chagi, sebentar lagi kau akan bertemu dengan putrimu.” Ucap Woohyun oppa dan mencium keningku.

Kami melangkah masuk ke halaman panti asuhan. Halaman ini nampak sangat terawat.

Seorang yeoja tersenyum menyambut kedatangan kamu. Mungkin usianya baru masuk usia 30 tahun.

“Annyeong, ada yang bisa dibantu?”. Ucap seorang yeoja dihadapanku dan Woohyun oppa.

“kami ingin bertemu dengan pimpinan yayasan panti asuhan ini.” Ucap Woohyun oppa mewakiliku.

“ouh, mari silahkan masuk.” Yeoja itu membawaku dan Woohyun oppa kedalam suatau ruangan yang cukup besar, kami duduk bersebelahan. “chamkaman aku akan memanggilkan eomma.” Yeoja itu membungkuk pergi.

Woohyun oppa menggenggam erat tanganku, berniat menenangkanku sepertinya, aku tersenyum padanya. Sungguh dia sangat berjasa dalam hidupku.

“annyeonghaseyong.” Ucap seorang yeoja muncul dari luar ruangan. Seorang yeoja yang bisa kutebak umurnya sekitar 60 tahunan. Dia tersenyum dan berjalan kearah kami. Lalu duduk tepat didepanku. “apa kiranya yang membuat tuan dan nonna datang kepanti asuhan kami.?” Ucapannya begitu lembut sampai membuatku tidak bisa terus tersenyum menatapnya.

“annyeong nyonya, perkenalkan Woohyun imnida, dan ini Hyena, calon istriku.” Perkataan Woohyun oppa lah yang membuatku tersadar dari tatapnku kearah yeoja didepanku.

“ne, panggil saja saya eomma, tidak perlu dengan sebutan nyonya.” Ucap yeoja itu lagi-lagi tersenyum kearahku. Kalau aku perhatikan dari pakaian yang ia kenakan, sepertinya dia seorang biarawati. “jadi apa yang membuat nak(?) Woohyun dan Hyena kesini.”

“kami ingin menanyakan seorang bayi, mm maksudku, 4 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 April adakah seorang bayi perempuan ditemukan disini.?” Tuturku dengan cepat. Aku sudah sangat merindukannya.

“4 tahun yang lalu? Bayi? Yeoja?.” Yeoja didepanku ini nampak berfikir. “chamkaman, biar aku panggilkan seseorang.” dia berlalu namun tidak lama masuk seorang yeoja yang lebih muda darinya.

“seorang bayi yeoja yang ditemukan 4 tahun yang lalu?.” Tanya yeoja itu kini duduk didepan Woohyun oppa.

“ne.” Aku mengangguk mantap.

“apa, bayi yang mempunya lemah jantung itu.?” DEG? Lemah jantung? Seketika dadagu bergetar sesak, sangat sesak. “bayi yang mempunyai tanda lahir di tengkuk belakangnya? Yang mempunyai ini.?” Yeoja itu menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dihadapan kami, aku membukanya dan benar saja, itu kalung yang bertuliskan ‘Sinha’. Yang menurut keterangan dari Hyekyung eonnie dia meletakkan kalung itu di samping putriku?.

“ne, benar dimana dia sekarang?.” Tanyaku dengan sedikit suara yang cukup tergesa-gesa menurutku.

“dia sudah tidak disini.” Ucap yeoja yang ingin dipanggil eomma.

Aku dan Woohyun oppa saling berpandangan. “maksudnya?.” Tutur Woohyun oppa mewakili ku, yang kini sudah tidak bisa berbicara apapun.

“hari itu, tepat 3 hari setelah kami menemukannya. Kondisinya semakin menurun, jantungnya semakin melemah, dan kami membawanya kerumah sakit. Mencoba untuk memeriksakannya, uisa bilang kedaannya sangat lemah, namun saat itu kami benar-benar tidak mempunyai biaya tambahan untuk melakukan perawatan itu…”

“lalu dimana sekarang putriku.” Ucapku memotong penjelasan dari yeoja dihadapanku.

“saat itu, beruntung sekali ada seorang namja yang masih sangat muda dengan senang hati ingin mengadopsinya. Lalu kami dengan yakin membiarkan namja itu mengadopsi bayi itu. Kami pikir namja itu akan bisa memberikan kehisupan yang layak untuk bayi yang baru berusia 3 hari itu.”

“siapa yang mengadopsinya?.” Tuntutku tidak membiarkan yeoja itu berlama-lama bercerita.

“kalau tidak salah namanya Choi…”. aku membulatkan mataku mendengar nama ‘Choi’ tidak, tidak boleh itu Choi Siwon, kumohon jangan.

“Choi Siwon eomma.” Yeoja disamping eomma ini berseru mengingatkan.

Mwo? Choi Siwon? Jadi? Angel? Dia? Putriku? Mataku memanas. Menahan perihnya airmata yang akan keluar. Ku rasakan tubuh Woohyun oppa menegang kaget disampingku.

Benarkah? Benarkah ini yang kudengar? Selama ini putriku dirawat oleh appa nya sendiri? Angel? Dia putriku? Dan Siwon oppa yang telah merawatnya selama ini? Aku tidak bisa menahan tangisku kini.

Apa yang harus aku lakukan tuhan? Aku benar-benar tidak tahu dengan semua jalanmu. Tidakkah kau lihat aku yang begitu rapuh jika hanya mendengar suaranya?

—–ooo—–

“kau yakin?.” Woohyun oppa menggenggam tanganku erat. Saat ini kami berada di depan sekolah Angel. Hari ini aku berniat untuk membawanya ke Seoul.

Ku lihat beberapa murid berhamburan keluar. Aku membuka mataku lebar mencari sesosok malaikat yang sangat ku rindukan. Dia sedang berjalan dengan pelan. Apakah keadaanya sudah mulai membaik? Aku keluar dan langsung menghambur memeluknya. Kurasakan dia mencoba memberontak pelukanku, aku melepaskan pelukanku dan memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku.

“Songsaenim.” Senyumnya merekah seketika mengetahui diriku yang sedang berada dihadapannya. Aku mengangguk dengan beberapa buitir air mata yang mengalir dipipiku, lalu kembali memeluknya. “bogoshipoyo.” Dia mengeratkan pelukannya.

Aku benar-benar merindukannya, merindukan putriku.

“kau menangis.” Dia mengusap pelan butiran bening itu dipipiku. “uljima songsaenim kenapa kau cengeng seperti anak kecil eoh?.” Dia mengecup singkat pipiku lalu kembali memelukku.

Angel, tidakkah kau tahu eomma sangat merindukanmu? Aku terus mengusap pelan rambut-rambutnya yang tergerai indah.

“dengar, chagi, bisakah mulai saat ini kau memanggil Songsaenim dengan sebutan eomma? EOMMA?” ucapku memberi penekanan dalam kata eomma.

Kutatap matanya yang kini mulai berbinar, entahlah, dia bahagia atau sedih.

“eo…mma?.” ucapnya sedikit kaku namun segera ku bawa kembali dia dalam dekapanku.

“ne, ini eomma chagi, eommau, sekarang kau mempunyai eomma, aku eomma mu.?”

“eomma?.” Kembali lagi dia memanggilku dengan sebutan yang ku pinta tadi.

“katakan sekali lagi chagi.” Aku memandangnya dengan penuh harapan.

“eomma, eomma eomma eomma?.” Dia menangis  terisak dan memelukku, Tuhan beginikah rasanya mendengar panggilan darinya. Ku mohon jangan pisahkan aku lagi dengannya.

—–ooo—–

“chagi, kau mau ikut dengan eomma.?” Kini kami (aku, Woohyun oppa, dan Angel) sedang menuju kembali ke Seoul.

“ne, aku akan ikut kemanapun eomma pergi, aku ingin selamanya bersama eomma.” Dia mengalungkan tangannya di leherku dan mengecup singkat pipiku.

“wah kau membuat uisa cemburu Angel.” Woohyun oppa menggodanya, Angel nampak mengerutkan bibirnya.

“eomma, kenapa kita tidak mengajak appa?.” Tanya Angel membuatku dan Woohyun oppa saling berpandangan sesaat.

“aah, begini chagi, hmm appa mu nanti akan menyusul.” Ujarku mencoba meyakinkannya. Aku sedikit ragu bisa memisahkannya dari Choi Siwon. Bagaimanapun dia yang selama ini Angel tahu sebagai appanya.

Kami memasuki rumah Ryeowook oppa dengan bergandengan. Mungkin aku egois mengambil(?) Angel dari Siwon oppa tanpa seizinnya. Tapi aku eommanya. Dia sudah 4 tahun bersamanya sedangkan aku? Akh sama sekali tidak ingin memikirkan itu.

Ryeowook oppa sedang memasak didapur, dengan Hyekyung eonnie yang sedang menata meja makan. Mereka tahu hari ini kami akan membawa Angel datang, mungkin mereka ingin menyambut keponakannya ini.

“kami datang”. Ucapku membuat kesibukan mereka berhenti.

“Angel?.” Hyekyung eonnie berlari dan langsung memeluk Angel disampingku. “ini Imo chagi, kau ingat.?” Angel menggeleng cepat membuat wajah Hyekyung eonnie yang tadinya tertawa sekarang cemberut(?).

Aku terkekeh, disusul oleh Woohyun oppa dan Ryeowook oppa.

“sudahlah chagi, kau ini, tidak mungkin juga dia akan mengingatmu, kapan terakhir kali kau bertemu dengannya.” Hyekyung eonnie segera memukul bahu Ryeowook oppa.

“ini semua gara-gara kau”. Ucap Hyekyung eonnie lalu kembali menunduk dan mensejajarkan tubuhnya dan Angel. “gwaenchana kau tidak mengenal imo, kajja kita makan saja.” Angel memandangku, meminta ijin sepertinya, aku mengangguk dan akhirnya mereka masuk ke ruang makan.

“ada yang ingin aku bicarakan dengan Woohyun oppa dan oppa.” Ucapku membuat mereka berdua memandangku.

“aku akan tetap menikah dengan Woohyun oppa lusa.” Ku lihat ekspresi dari Woohyun oppa dan Ryeowook oppa yang kaget meendengar penuturanku.

“kau tidak sedang bercanda bukan.?” Woohyun oppa menatapku tak percaya.

“anni oppa.” Aku menggeleng pelan “bukankah aku sudah berjanji akan menikah denganmu saat aku menemukan putriku?.” Woohyun oppa dan Ryeowook oppa saling berpandangan.

“bagus kalau kau masih ingat itu, lebih baik sekarang kalian bicarakan tentang pernikahan kalian, aku lapar.” Ryeowook oppa berlalu menuju meja makan namun sempat tersenyum puas sebelum dia meninggalkan kami.

“apa kau yakin.?” Woohyun oppa nampak masih belum percaya dengan penuturanku.

“wae? Apa sekarang oppa berubah pikiran?, apa sekarang oppa tidak mau menikah denganku? Apa sekarang oppa…” aku tidak melanjutkan kata-kataku karena bibir Woohyun oppa sudah menempel dibibirku lembut.

“aku tidak pernah menyesal, aku tidak pernah berubah pikiran, aku hanya..”. aku menutup bibirnya dengan jari-jariku.

“sudahlah oppa, aku lapar, kajja kita makan.” Aku menyeret(?) nya ke ruang makan.

—–ooo—–

TBC====>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: