Litlle Angel [Chap 3]

Gambar

Title: Litlle Angel

 

Cast: -Choi Siwon

          -Kim Hyena a.k.a Oktavia Juyanti

          -Choi Sinha a.k.a Angel

 

Suport Cast:-Kim Ryeowook

                       -Shin Hye Kyung a.k.a DheAjheng Ophiie Alanuviracuitcuit

                      -Lee Donghae

                      -Choi Jihwa a.k.a Faridah The-Puff Sii Belahanjiwa Nounna-nyuaaStefan

                      -Nam Woohyun

                      -Im Yoona         

 

Author: Ophiie Ryeosomnia a.k.a Shin Hye Kyung (istri syah dan istri pertama sekaligus istri terakhir dari Kim Ryeowook)

 

Leght:  Chapter

Chapter: 3 OF?

 

Genre: Romance

 

Rated: PG-15

Facebook: DheAjheng Ophy Alanuviracuitcuit

Twitter: @ophiie_unyu

 

Disclaimer: Ryeowook is Mine^^ & this FF is MINE too, Don’t Plagiat Don’t Copas sembarangan dilarang Bashing^^

Soundtrac: Davichi_Sad Promise

cover: Novin Aresta

Warning: ‘FF gaje, Typo berserakan macam sampah, mohon dimaklumi, saya menerima kritikan, masukan, komentar tapi bukan Bashingan! So Don’t Bashing and Don’t Plagiat’

Dia tersenyum, Ini benar-benar terlalu lama

Aku merindukan ekspresi itu, dia wanitaku, kan?

Dia berjalan menjauh, Merangkul orang lain

Dadaku terasa seperti hancur di bawah beban berat

             -Suju_In My Dream-

 

=====> Last Story

“Nyobseo” ucap Woohyun mengangkat telepon disamping Hyena.

“………….”

“mwo? Benarkah? Ne, aku akan segera kesana” Woohyun lalu mematikan sambungan telepon.

“gwaenchana opp?” tanya Hyena sedikit khawatir melihat Woohyun yang tiba-tiba panik.

“Angel, penyakitnya kambuh, aku harus segera kerumah sakit”

DEG

Hyena hampir tidak bisa menahan airmatanya. “aku ikut” ucapnya setengah berbisik.

.

.

.

.

Chap 3

~Story Begining~

Hyena Pov~

Woohyun oppa berjalan mendahuluiku menuju ruang ICU, dari jauh terlihat dia berbisik dengan seorang suster, dan segera mengenakan pakaian rumah sakitnya.

Jihwa, dialah orang pertama yang aku lihat sedang berdiri didepan ruang ICU dengan linangan air mata dipipinya. Hatiku bertambah sakit kala melihatnya terus terisak.

“Jihwa-shi” aku memberanikan diri mendekati Jihwa yang sedang terduduk lemah, dia mendongak menatap ke arahku dan seketika menghambur kepelukanku.

“Songsaenim” aku membalas pelukannya dengan menyeka sedikit air mata dipipiku. Entahlah, rasanya terlalu susah untuk tidak mengeluarkan air mata ini.

“Gwaenchana, Angel akan baik-baik saja, dia anak yang kuat, aku yakin itu” Aku sedikit menghiburnya, dan tentu saja menghibur diriku sendiri. Tidak aku pungkiri akupun terlalu khawatir akan keadaannya. Bukan hanya penyakit jantung yang sangat berbahaya, mengingat Angel bahkan masih belum bisa mengerti apa yang terjadi, membayangkan gadis seusianya harus menahan sakit yang aku sendiri tidak tahu seberapa sakit rasa itu?

“aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri bila hal buruk terjadi padanya”

DEG

Tiba-tiba jantungku serasa berhenti. Apakah separah itu? Apakah tidak ada takdir lain dari tuhan? Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya? Aku tidak bisa berucap apapun, sedikit penyesalan menyelimutiku. Kenapa? Kenapa harus aku mengajaknya bermain ditaman hiburan? aku baru ingat, seseorang pernah berkata kepadaku, bahwa orang yang menderita penyakit jantung itu tidak boleh terlalu lelah. Tidak boleh banyak mengeluarkan keringat, berlari, dan melakukan hal berat lainnya.

Ya Tuhan, benarkah ini semua gara-gara diriku? Karena aku mengajaknya ketaman hiburan tadi dia kelelahan dan penyakitnya kambuh? Jika benar ku mohon biar aku yang menggantikannya saja Tuhan, biar aku yang berada diposisinya saat ini.

Jihwa melepaskan pelukannya padaku, dia menatapku dengan air mata yang masih terlalu banyak dipelupuk matanya.

“Songsaenim, kau menangis?” aku memandangnya penuh tanda tanya. Kenapa dia masih bisa bertanya seperti itu? Dia memelukku kembali “kau tahu, selama ini tidak ada yang menangis untuknya selain aku, kau orang pertama yang menangisinya selain diriku” dia memelukku begitu erat seolah berkata ‘gomawo songsaenim’.

Tunggu? Hanya dia yang menangisinya? Lalu eommanya? Akh, benarkah Angel sudah tidak mempunyai eomma? Tapi kemana eommanya? Meninggal? Atau meninggalkannya.

“Chagi” ku dengar seorang bersuara dari sampingku dan Jihwa, kami melepaskan pelukan kami yang sudah dibanjiri air mata itu, Donghae segera memeluk Jihwa menenangkannya dalam dekapannya. Kembali lagi Jihwa menangis dan terisak. “Gwaenchana, semua akan baik-baik saja, kau percaya padaku”.

Aku duduk di deretan beberapa kursi didepan ruang ICU dengan menutup wajahku. Mendengar perkataan Donghae setidaknya membuat diriku sedikit lega. Namun tidak dengan Jihwa dia tetap menangis, entahlah, dia bahkan sepertinya menyayangi Angel seperti dia menyayangi dirinya sendiri.

2 jam berlalu kami masih duduk didepan ruang ICU, tidak ada tanda-tanda keluarnya uisa dari dalam, berkali-kali ku lirik jam tanganku, ku lihat Jihwa juga begitu, dan Donghae, dia berulang kali berjalan mondar-mandir(?) kesana-kemari dengan sesekali mengetuk-etukan kakinya kelantai rumah sakit yang berwarna putih itu.

“kau sudah memberitahunya?” Donghae duduk disamping Jihwa yang masih menunduk sambil sesekali menyeka air matanya. Jihwa menggeleng, entahlah siapa yang dimaksud Donghae.

“aku belum sempat menelponnya. Lagi pula dia sedang di Seoul, aku tidak tahu kapan dia pulang” suara Jihwa kini terdengar sangat parau.

“baiklah, biar aku menelponnya” Donghae berdiri dan berlalu menjauh dari kami, terlihat dia menelpon seseorang lalu kembali dengan wajah yang sedikit kecewa.

“mungkin dia sedang sibuk, ponselnya mati”

“dasar tidak bertanggung jawab! Bisa-bisanya dia mematikan ponselnya disaat seperti ini? Appa macam apa dia?” Jihwa sedikit menaikkan nada suaranya. Mungkin yang dimaksudnya adalah appa nya Angel, entahlah sampai sekarang akupun tidak tahu siapa Appanya Angel itu.

“oppa” Jihwa berdiri dan membuatku ikut berdiri menatap Woohyun oppa yang saat ini berada di ambang pintu ruang ICU.

“Ottoehkae?” aku tidak bisa membendung airmataku lagi saat ini. Menatap ekspresi datar dari Woohyun oppa, aku tahu ekspresi itu, aku tahu semua ekspresinya. Dan dari sekian banyak ekspresi yang dia punya, hanya ini yang aku tidak suka. Ekspresi kecewa. Dia memelukku saat ini aku sungguh tidak bisa untuk tidak terisak sedikit terdengar suara tangisan yang cukup keras dari arah sampingku, Jihwa, pasti dia sedang menangis.

“mianhae” dia berucap sangat lirih di samping telingaku. Apa? Apa yang terjadi? Ku mohon jangan katakan hal buruk padaku? Aku tidak ingin mendengarnya. “tidak banyak yang bisa kulakukan untuknya, tapi berdoalah semoga Tuhan bermurah hati” aku mendengar sesuatu terjatuh disana. Lalu beberapa derap langkah menghampiri ke arah kami masih bisa kudengar jelas suara Donghae yang begitu khawatir.

“Jihwa…. Jihwa….” suara itu perlahan menjauh aku melihat dari celah tubuh Woohyun oppa beberapa orang menggotong Jihwa. Jihwa tak sadarkan diri, sepertinya begitu.

—–000—–

Aku menggenggam tangannya yang dingin. Beberapa alat rumah sakit menempel di tubuhnya, miris melihatnya seperti ini, tidak bisa, aku bahkan tidak bisa melihatnya terdiam seperti itu. “Angel” ku belai rambut hitam ikalnya itu, ku kecup tangan mungilnya lembut “bangunlah, jebal” aku kembali ke wajahnya. Menatap mata itu terpejam damai, menyusuri setiap bentuk wajahnya, DEG, tiba-tiba aku teringat sesuatu, hidungnya, bibirnya, lihat, tidakkah dia mirip dengan seseorang? Ya Tuhan kenapa aku mengingatnya?

‘Choi Shina’ kembali lagi aku teringat nama asli gadis yang sedang terbaring dihadapanku. Seandainya dia masih ada, mungkin dia seusiamu saat ini. Aku membelai wajah pucatnya dan kembali lagi aku teringat sosoknya. Aku baru sadar dengan tatapan matanya yang selalu membuatku sejuk, ternyata matanya mirip dengan mata seseorang. seseorang yang sudah lama aku rindukan.

‘Choi Siwon’ untuk pertama kalinya selama 3 tahun terakhir ini aku menyebut kembali namanya. Ada sedikit perasaan sesak didadaku. Adakah hubunganmu dengannya? Dari margamu? Hidungmu? Bibirmu? Bahkan caranya menatapku sama persis dengan biasanya kau menatapku.

“songsaenim” seseorang duduk disampingku, aku tersenyum padanya. Jihwa dia terlihat sangat tidak beraturan. Matanya yang hampir tidak bisa terbuka, ditambah baju yang dia pakai kusut dan rambutnya yang sudah tidak serapi tadi. “apa belum ada tanda-tanda dia sadar?” suaranya. Bahkan terdengar lebih parau dari tadi siang. Aku menggeleng, sedikit air muncul diujung matanya. “aku lelah songsaenim” Dia bangkit dan berjalan ke arah yang berlawanan didepanku.

“Angel bangunlah, lihat ahjumma Angel, lihaat” Jihwa mengguncang tubuh Angel pelan. Aku sedikit mencengkeram lengannya.

“jangan lakukan hal bodoh Jihwa-shi” segera ku dekati dia dan membawanya duduk di sofa, dia menangis kembali.

“aku hanya tidak bisa melihatnya seperti ini, aku lelah songsaenim” aku tidak bisa menjawabnya. Aku kembali menatap Angel yang masih terbaring, sesuatu bergerak disana. Yah tangannya. Jari-jarinya, dia bergerak.

“Jihwa lihat itu” aku segera menghampiri Angel diikuti Jihwa dibelakangku. Tangannya bergerak alat pendeteksi pun semakin naik. Dia sadar. Matanya mengerjap-erjap seketika.

“Angel” Jihwa menatapku dan tersenyum “biar aku panggil uisa” dia berlalu. Aku duduk di sampingnya sambil memegang tangannya yang semakin bergerak. Ku lihat mata-nya mulai terbuka perlahan mengedarkan seluruh pandangannya ke atap rumah sakit.

“Angel” aku menyapanya. Ku sapukan tanganku di pipi tirusnya, dia menatapku.

“songsaenim” suaranya terlalu parau ditelingaku aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“ne, chagi ini Songsaenim, kau sadar?” masih ku genggam tangannya dengan butiran bening yang semakin turun dari kelopak mataku. Tangannya yang ku genggam bergerak lamban menyentuh wajahku, mengusap dengan lembut butiran itu.

“apa dia sadar?” suara Woohyun oppa terdengar jelas masuk ke ruangan. Dia segera mengambil alat-alatnya dan memeriksa Angel. Jihwa memelukku.

“gomawo Songsaenim, kau sudah membuatnya bangun” ucapnya sambil terisak.

“anni, dia sadar karena dirinya sendiri. Kau tahu kan dia gadis yang kuat” ucapku sedikit tersenyum.

“ahjumma” Jihwa segera melepaskan pelukannya dariku dan memeluk Angel.

“kau sadar chagi” Jihwa membelai rambut Angel, dan membelai wajah Angel. Aku sangat terharu, sampai aku tidak sadar saat ini Woohyun oppa telah memeluk tubuhku.

“kau lihat Tuhan tidak tidur. Dia terlalu menyayangimu kau tahu” dia mengecup pucuk kepalaku.

—–000—–

Siwon POV~

Aku melajukan mesin mobilku dengan kecepatan diatas rata-rata. Bagaimana mungkin mereka baru memberitahuku? Aissshh ku pukul pelan seetir mobil ku. 10 menit yang lalu aku mendapat kabar dari Donghae kalau Angel masuk rumah sakit? Pasti dia kelelahan, sudah ku katakan berapa kali dia terlalu bandel(?) dan Jihwa? Apa saja pekerjaannya sampai mengurus 1 anak kecilpun tidak bisa? Ck, sangat bodoh. Guru itu? Kim Songsaenim? Yang mengajak Angel jalan-jalan? Pasti dia! Yah, karena dia Angel kelelahan!

Butuh waktu cukup lama untuk sampai di Mokpo, aku memarkirkan mobilku dengan tergesa-gesa. Segera ku hampiri recepsionist dan menanyakan kamar rawat Angel.

“annyeong, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang resepsionist ramah

“pasien yang bernama Choi Sinha ada di kamar berapa?”

“123” ucapnya dan segera aku berbalik, tak sengaja mataku menatap seseorang yang berjalan berlalu dihadapanku. ‘Dia’ aku seperti mengenal cara berjalannya. Aku tidak terlalu melihat wajahnya. Rambutnya panjang sebahu di ikat dengan rapi. “Hyena?” satu nama itu yang melintas difikiranku. Benarkah itu dia? Aku melihat dia berjalan dengan seorang namja? ‘Hyena? Benarkah itu kau?’ aku berlari mencoba mengikuti mereka, namun sial ponselku berdering.

“Nyeobseo?” ucapku kesal pada seseorang dari ujung sana.

“appa, kau sudah sampai?” ya Tuhan gadis ini? Putriku. Kenapa aku bisa melupakannya?

“ne, chagi apa sudah didepan rumah sakit” ucapku lalu menutup ponsel dan kembali memandang kearah yeoja yang seperti mirip Hyena, namun sudah tidak ada! Aissh sial!

Aku membuka pintu kamar 123 dengan pelan, seorang gadis kecil yang sangat ku sayangi tersenyum senang memandangku.

“kenapa appa lama sekali eoh?” dia memanyunkan bibirnya sangat lucu. Kukecup pucuk kepalanya pelan.

“mianhae chagi, jalannya cukup macet” aku duduk disamping tempat tidurnya.

“sayang sekali, kim songsaenim baru saja pulang, apa appaa bertemu dengannya di jalan?” tanya nya antusias.

“anni” entah kenapa dia senang sekali jika menyebutkan nama gurunya itu.

“kau sudah pulang oppa?” seseorang keluar dari kamar mandi.

Aku menatap Jihwa yang keluar dari kamar mandi, dan mengangguk. Aku tidak ingin bicara banyak padanya jujur aku kecewa padanya yang lalai menjaga Angel.

Pintu kamar rawat terbuka, Donghae masuk membawa beberapa kantong kresek ditangannya.

“ah, hyung, kau sudah datang?” dia masuk dengan sedikit mengedarkan pandangannya “dimana kim songsaenim?” sepertinya dia bertanya pada Jihwa.

“baru saja pulang” Jihwa menerima beberapa kresek dari tangan Donghae.

“sayang sekali padahal aku baru saja membelikan makanan untuknya juga” ucap Donghae kecewa.

Aku mendengus kesal, bagaimana mungkin mereka seramah itu pada orang yang sudah membuat penyakit Angel kambuh Aisshh aku sama sekali tidak menyangkanya.

—–000—–

Hyena Pov~

Aku keluar apartement ku pukul 6 tepat, ini hari minggu, aku akan mengunjungi Angel, sebelumnya ku putuskan untuk membeli beberapa buah-buahan, lalu melangkahkan kakiku menuju rumah sakit tempat di mana Angel dirawat. Ebtah kenapa sejak pagi tadi hatiku terus berdebar, Tuhan ada apa ini? Ku langkahkan kakiku dengan cepat, aku sudah berjanji pada Angel akan datang sepagi mungkin dan mengajaknya berkeliling.

Aku berdiri didepan pintu ruang 123 dengan sedikit tegang? Tegang? Kenapa? Aku mengangkat satu tanganku dan mendaratkannya didadaku ‘berdebar’ ada apa ini? Semakin aku bertanya, ku raih knop pintu dan mendorongnya pelan. Jihwa tersenyum saat melihatku masuk.

“songsaenim” Angel menyambutku dengan gembira. Aku mendekati Angel yang masih berbaring ditempat tidurnya dan Jihwa di samping nya.

Ku letakkan buah-buahan itu di sebuah meja. “bagaimana kabarmu Angel?” tanyaku lalu mengecup pelan dahinya.

“sangat baik songsaenim” ucapnya bersemangat.

“ck, memang baik apanya? Lihatlah Songsaenim, dia bahkan tidak mau memakan makanannya” adu Jihwa padaku. Aku tersenyum lalu meminta mangkik berisi bubur itu dari tangan Jihwa.

“biar aku yang menyuapinya Jihwa-shi, kau harus mau ne” ucapku lalu membantunya sedikit duduk bersandar pada dinding kamar, lalu menyuapinya”

“siapa yang datang” ucap seseorang dari dalam kamar mandi. DEG ‘suara itu?’ aku mendongakkan kepalaku menatap seseorang yang sedang berdiri didepan kamar mandi dan saat itu dia juga sedang menatapku. Mata kami bertemu… dia…. dia terkejut menatapku, begitupun diriku ‘Tuhan apa aku sedang bermimpi?’

Klontraang

*suara apa Thor?*

*mau tau banget?*Plak!

 

Seketika mangkuk berisi bubur terjatuh dari tanganku ‘Cho…..Cho… i Si… Woon?’ ucapku masih menatap nya yang berada di depan pintu kamarmandi.

.

.

.

.

.

=====> To Be Continued

Authornya gg maksa Readers buat coment, gg coment juga gpp, cuman yg gg coment di part ini jangan minta di tag di part selanjutnya! *simple kan*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: