I Just Wanna Say ‘I LOVE YOU’ [Squel Of Sorry, I Love You]

Gambar

Title: I Just Wanna Say ‘I LOVE YOU’

           (squel of Sorry, I Love You)

 

Cast: -Park Hyemi (OC)

         -Nichkhun Horjevkul                

         -Other cast

 

Author: Ophiie Ryeosomnia a.k.a Shin Hye Kyung (istri syah dan istri pertama sekaligus istri terakhir dari Kim Ryeowook)

 

Leght: Oneshoot

 

Genre: Romance

 

Rated:  16+

Disclaimer: Ryeowook is Mine^^ & this FF is MINE too, Don’t Plagiat Don’t Copas sembarangan dilarang Bashing^^

 

Annyeong~ akhirnya setelah bertapa berbulan-bulan XD, ini FF keluar juga. Gtw dah jadinya  ini FF seperti apa bentuknya, tapi dimohon seperti apapun bentuknya mohon dinikmati saja, seperti biasa saiia menerima masukan, komentar, saran, kritik dsb, tapi bukan BASHINGAN! Jadi mohon di bedakan^^

Buat yang udda lupa sama cerita sebelumnya (SORRY I LOVE YOU) silahkan di cek di note saiia atau di note anda-anda sekalian. Spesiall Thanks for NovinChoi ElfishySiwonsuho Evilprincekyu, gomawo sampulnya Chagi^^

~happy Reading~

———-oooOOOooo———-

Jadi, aku ucapkan terimakasih untukmu

Karena kasih yang kau berikan untukku

———oooOOOooo———–

Hyemi Pov~

 

Untuk kesekian kalinya aku menatap rumah besar di hadapanku, rumah keluarga Horjevkul. Rumah yang semenjak 3 bulan terakhir ini menjadi tempat tinggalku.

“chagi, ayo nanti kau ketinggalan pesawat” aku tersenyum kepada Eomma Nichkhun oppa yang tengah memasukkan koperku ke mobilnya. Aku pun masuk ke mobil ferari merah miliknya.

3 bulan ini, tepatnya setelah aku memutuskan untuk tetap bersama Nichkhun oppa, terlebih semenjak aku mendengar pernikahan Donghae oppa dan Jesicca, aku memutuskan untuk tinggal di California bersama orangtua Nichkhun oppa.

Rasanya aku belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan mereka. Aku tidak bisa harus melihat Donghae oppa bersanding dengan yeoja lain di pelaminan, itu teramat menyakitkan.

3 bulan aku tidak bertemu eomma, appa, Soo Hyun oppa, Nichkhun oppa, Suzzy Eonni, bahkan kabar dari Donghae oppa. Aku benar-benar menutup telingaku untuk kabar tentangnya.

“dengar, kau harus segera menelpon eomma setibanya di Incheon, okey?” eomma Nichkhun oppa memelukku dan mencium keningku lalu mengelus perutku yang sudah mulai membesar(?).

“ne eomma” aku tersenyum manis kepadanya. Dia begitu menyayangiku. Selama aku tinggal dengannya dia bahkan tidak pernah meninggalkanku sedetik pun. Mungkin dia teramat menantikan calon cucunya yang tengah berada dalam kandunganku.

Eommanim membungkuk dan mencium singkat perutku “kau jangan nakal ne chagi, jaga eommamu, sampai ketemu 6 bulan lagi” ucap eommanim membuatku terkekeh geli. Dia memang sering mengajak kandungan(?)ku berkomunikasi.

—000—

 

Aku menghirup(?) udara Incheon yang sangat kurindukan, segera ku seret(?) koperku keluar, ku lihat eomma melambaikan tangannya ketika melihatku.

Aku kembali tersenyum betapa aku sangat merindukannya. Dia yang hampir setiap jam menelponku dan menanyakan keadaanku. Ck, terlalu berlebihan menurutku.

“aahhh Chagi.. bogoshipoyo” dia memeluk tubuhku seketika aku sudah berada di depannya “bagaimana kabarmu eoh? Bagaimana cucu eomma?” eomma mengelus pelan wajahku sebelum tangannya turun meraba perutku “chagi kau baik-baik saja? Ayolah cepat keluar, kami sangat menantikanmu” eomma menempelkan(?) telinganya di depan perutku.

“apa yang eomma lakukan eoh?” aku sedikit geli(?) melihat tingkah eomma.

“stttt dia sedang berbicara, diamlah” eomma menatapku sambil mendaratkan telunjuknya di depan bibirnya “ah, ne arasheo arasheo” ucap eomma lalu menatapku “dia bilang dia sangat merindukan appa nya, kajja kita pulang” eomma menggodaku sepertinya.

 

“kenapa hanya eomma yang menjemputku? Yang lain kemana?” maksudku-Nichkhun oppa- eomma tersenyum sambil terus memandang ke jalan raya.

“yang lain? Hmmm tidak bisakah kau menyederhanakan kata-kata ‘yang lain’?” tanya eomma tanpa menoleh ke arahku.

“maksud eomma?” aku sedikit tidak mengerti dengannya.

“ayolah chagi, kau tahu appa mu sedang sibuk, dan oppa mu baru saja pergi berbulan madu, kasihan dia sudah hampir 3 bulan menikah tapi baru berbulan madu, lalu yang lain siapa maksudmu eoh? Katakan saja namanya” Aigo~ eomma benar-benar terlalu fullgar(?) “kau merindukannya eoh?” tanya eomma masih menggodaku.

“merindukan siapa?” aku membuang muka kesamping menatap Seoul yang sangat ku rindukan.

“ck, tidak perlu berkilah seperti itu pada eomma”

“ne, baiklah, dimana Nichkhun oppa, kenapa dia tidak menjemputku” Issshh sepertinya aku benar-benar muak berbasa-basi dengan eomma. Eomma terkekeh pelan tanpa menjawab pertanyaanku.

Isssh Jinja? Aku benar-benar kesal padanya. Bisa-bisanya dia tidak menjemputku? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Sampai-sampai dia melupakan istri dan calon anaknya?

“nah, chagi eomma tidak masuk ne, masih banyak yg harus eomma kerjakan di rumah, sampai besok chagi” eomma mencium keningku dan menjalankan mobilnya menjauh dari rumah’ku’.

Aku memandang puas bangunan di hadapanku. Aku merindukan rumah ini. Aku merindukan semua yang ada di rumah ini. Ck teringat saat aku masih di California, Nichkhun oppa setiap hari menelponku dan menyuruhku pulang, tapi sekarang kemana dia, isshh aku benar-benar kesal padanya. Awas saja kau oppa!

Ruangan ini nampak sama 3 bulan tanpa perubahan, masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tiba-tiba hidungku mengendus(?) mencium bau masakan siapa yang sedang memasak? Aku bergegas ke dapur.

Seorang namja memakai celemek(?) sedang berkutat dengan beberapa perlengkapan dapurnya.

“oppa” ucapku tertahan antara kaget dan terkejut *apa bedanya* namja itu menatapku dan tersenyum.

“chagi? Aku menghancurkan dapurmu lagi?” ucapnya sambil masih tersenyum kearahku. Aku terkekeh melihat ekspresinya. Teringat peristiwa beberapa bulan lalu saat dia menghancurkan dapur ini dan aku memarahinya.

Aku mendekat ke arahnya yang memegang satu piring penuh berisi bulgogi sepertinya. “apa itu bulgogi beracun seperti waktu itu?” tanyaku memicingkan(?) mataku curiga. Dia tertawa kecil sambil menatap bulgogi dihadapannya.

“kau harus mencobanya, ini sangat enak” ucapnya menyodorkan(?) bulgogi kedepan mulutku. Aku menggeleng cepat “wae? Kau tidak mau menghargai usahaku eoh?.” Dia terlihat sedikit kecewa.

“annio, aku hanya tidak mau anakku harus merasakan bulgogi beracun itu” ucapku menahan tawa melihat ekspresinya. Sesaat dia menatapku lalu berganti menatap perutku yang sudah lebih besar tentunya dari saat terakhir kali dia melihatku.

“aigo~” dia memukul pelan kepalanya sendiri lalu meletakkan piring bulgogi itu ke meja dan segera membungkukkan badannya mensejajarkan wajahnya dengan perutku “chagi, kau apa kabar? Appa sangat merindukanmu, apa kau merindukan appa eoh? Bagaimana eommamu? Apa dia menyayangimu?  Dia tidak berusaha untuk membunuhmu kan?”

Pletak* aku mendaratkan 1 jitakkan di kepalanya yang membuatnya menjauh sedikit dari perutku.

“yak! Apa yang kau lakukan eoh appoya” dia mengusap pelan bekas jitakanku.

“lagi pula untuk apa oppa berbicara seperti itu?” aku duduk dengan memasang wajah kesalku, dia mendekatiku dan berjongkok dihadapanku.

“mianhae chagi, aku hanya ingin memastikan kau tidak berusaha membunuhnya” isssh sekali lagi dia berucap seperti itu aku benar-benar akan menyumpel mulutnya itu.

“yak! Kau pikir aku eomma macam apa eoh? Mencoba membunuh anaknya sendiri?” aku menaikkan nada suaraku. Dia benar-benar keterlaluan.

Dia terkekeh melihat ekspresi kesalku, lalu meraih wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk menatapnya “kau menyayanginya? Kau mencintainya? Kau mencintai anak kita? Berarti kau mencintaiku juga?” dia itu kadang-kadang aneh, berbicara sendiri, aku masih tersadar saat bibirnya dengan lembut menyentuh bibirku, sesaat sebelum ponselnya berbunyi. Dia melepaskan bibirnya dari bibirku dan berdiri mengangkat telpon yang ada di saku celananya.

Aku sedikit kecewa. Omo~ kecewa? Benarkah? Apa aku sudah mulai mencintainya?

“ne, aku akan segera kesana” mendengar ucapannya membuatku menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“chagi, aku ada syuting di WGM hari ini, mungkin sampai larut, apa kau tidak apa-apa dirumah sendiri? Atau aku akan menelpon Jieun?”

“annio, gwaenchana” dia berlalu menuju kamar dan aku mengikutinya.

“benar kau tidak apa-apa dirumah sendiri?” dia menatapku sambil memakai bajunya.

“ne, gwaenchanayo. Apa oppa sedang ada proyek di WGM?” aku baru tahu dia sedang mengikuti acara reality Show WGM, menurutku itu acara paling konyol yang ada didunia.

“ne, sudah semenjak 1 minggu yang lalu” ucapnya yang kini sedang dikamar mandi.

“siapa pemeran yeojanya?” tiba-tiba aku penasaran dengan artis Yeoja yang dipasangkan dengannya.

“Victoria” DEG ‘Victoria’ aku menggelengkan pelan kepalaku mengingat pernah ada gosip yang menyebutkan dia dan Victoria ‘kenapa dadaku menjadi sesak? Kenapa tiba-tiba aku sakit mendengar nama itu? Rasanya ada sedikit ketidakrelaan disana’.

“aku pergi dulu ne” dia mengecup singkat keningku lalu pergi.

Apa yang aku fikirkan? Damn! Sekarang aku takut kehilangannya? Takut dia berpaling dariku? Oh God, apakah ini bisa dinamakan cemburu? Aku cemburu? Ku usap pelan perut ku “tenang chagi, appa mu tidak akan melakukan itu, dia menyayangimu, ne, tenanglah” aku berucap menenangkan diriku sendiri.

—000—

Ku pandangi bosan jam yang terpampang di kamarku. Sudah lewat jam 8 malam, Nichkhun oppa belum pulang “apakah syutingnya sampai malam begini?” aku membuka sedikit horden di kamarku yang menembus(?) kedepan rumahku. Belum ada tanda-tanda kepulangannya. “ottoehkae?” aku benar-benar takut saat ini. Entahlah takut dia meninggalkanku atau takut anakku lahir tanpa appa, atau takut karena apa?.

Aku mencoba merebahkan tubuhku dan mencoba menutup mataku pelan, sia-sia itu percuma, tak lama aku mendengar suara mobil menepi didepan rumahku, kutatap dari ujung jendela kamarku, Nichkhun oppa dia pulang.

Aku merebahkan tubuhku berpura-pura tidur. Ku dengar Pintu kamar terbuka, lalu ku rasakan ranjang yang kutiduri berdecit(?) sepertinya bertambah beban. Sebuah tangan kini menyusuri wajahku, lalu mengecup singkat keningku, dan beralih keperutku, dan mengecupnya. “saranghaeyo” suara Nichkhun oppa terdengar jelas ditelingaku.

Aku membuka mataku saat mendengar suara pintu tertutup, kupandang pintu itu sesaat, apa dia keluar? Atau? Aku menghentikan pikiranku saat mendengar suara kran di kamar mandi terbuka. Apa dia sedang mandi disini? Aku membalikkan tubuhku membelakangi kamar mandi dan mencoba menutup mataku kembali.

Tapi terlalu susah, aku harus menanyakannya padanya. Pintu kamar mandi terbuka, aku buru-buru menutup mataku, aku tidak ingin dia tahu kalau aku belum tidur.

Ranjang yang kutiduri kembali berdecit, sepasang tangan memeluk perutku dari belakang, dan mengusapnya pelan, membuatku membuka mataku kaget, kurasakan hangat nafasnya menerpa leherku, sepertinya hidungnya ada disana sekarang.

“seandainya bisa seperti ini sejak dulu” terdengar suara pelannya ditelingaku. Mungkin dia mengira aku sudah tertidur?. beberapa menit aku terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. aku masih hanyut dalam pikiranku sendiri. mencoba menetralisir denyut jantungku.

suara dengkuran cukup pelan keluar tepat di samping telingaku, nafasnya naik turun teratur menerpa kulit leherku, sepertinya Nichkhun oppa sudah terlelap di belakangku, aku membalikan tubuhku dan menatapnya. matanya terpejam, aku baru sadar wajahnya sangat lucu saat sedang tertidur. tanganku bergerak menyusuri wajahnya yang tercetak sempurna, membuatku menyentuh semua panca indranya. matanya, hidungnya, pipinya, sampai tanganku berhenti di bibirnya, tanpa sadar bibirku tertarik menjadi sebuah senyuman kecil.

“Jangan mencuri star seperti itu nyonya Horvejkul”. reflek ku jauhkan tanganku dari bibirnya. Aigo~ bagaimana dia bisa terbangun seperti itu? Hyemi babo! aku menundukan wajahku menyembunyikan semburat merah yang aku yakini tengah menyeruak di atas pipiku. “wae? apa kau malu? yak! aku ini kan suamimu?”. Nichkhun oppa menempelkan keningnya diatas kepalaku. aku benar-benar salah tingkah dibuatnya.

“ck, apa yang kau katakan?”. aku mendorongnya lalu membalikkan tubuhku sendiri membelakanginya. dia terkekeh pelan, aku rasa aku benar-benar bodoh, Aigo~.

“Hyemi~a” sepasang tangan kembali melingkar di perutku “Bogoshipo”. dia mengecup pelan ujung rambutku “apa kau tidak merindukanku eumm? 3 bulan tidak bertemu denganku kau sama sekali tidak pernah menghubungiku jika aku tidak menghubungimu dulu”. aku tersenyum mendengar ucapannya. memang benar aku tidak pernah menghubunginya jika dia tidak menghubungiku terlebih dahulu. “yak! Park Hyemi, jangan berpura-pura tidur seperti itu, cepat bangun”. dia membalikkan paksa tubuhku.

“bukankah kau juga sedang sibuk dengan Syuting mu itu? bersama Song Victoria”. ucapku sedikit menekan pada kata ‘Song Victoria’. “kau menikmati syuting bersamanya bukan?”. sepertinya nada bicaraku agak menjurus? dia terlihat kaget lalu tersenyum seduktif.

“wae? kau cemburu eoh?”. aku sedikit memundurkan kepalaku saat kepalanya mendekati wajahku.

“an..ni, sudahlah, lupakan, aku mengantuk”. aku kembali membalikkan tubuhku membelakanginya, Nichkhun oppa terkekeh. issh jinjja? aku benar-benar malu dibuatnya. aku tersenyum mendapat sebuah ide dalam otakku agar dia menghentikan kekehannya. aku membalikkan tubuhku menatapnya yang tengah terkekeh. “oppa”. aku sedikit memanjakan nada suaraku.

“ne, wae?”. dia tersenyum, senyum khasnya.

“aku lapar”. Senyum itu hilang seketika, berubah menjadi raut wajah yang cukup khawatir.

“apa kau belum makan?”. aku mengangguk “Aigo~, kenapa bisa seperti itu? chamkaman aku ambilkan bulgogi yang tadi.” dia beranjak dari tempat tidur, namun aku segera mencegahnya.

“aku tidak ingin makan bulgogi, aku ingin salad oppa, sayuran bagus untuk ibu hamil”. ujarku tersenyum semangat.

“tapi aku tidak bisa membuat salad”.

“ck, siapa yang menyuruhmu untuk membuatnya? kau bisa membelinya”.

“ye?”. dia melirik ke arah jam di kamar kami(?), 23.32 KST “yang benar saja, ini sudah hampir tengah malam Hyemi-a, pasti semua rumah makan tutup”.

“aku tidak mau tahu, oppa harus membelikannya sekarang”.

“besok saja otte, aku lelah sekali”.

“anni, aku mau sekarang, sekarang sekarang, kau mau anakmu nanti tidak normal eoh?” dia menggeleng cepat.

“tentu saja tidak”.

“ya sudah belikan sekarang”. dia menghela nafas berat sekali sepertinya.

“ne, aku pergi”. dia berlalu dan tersenyum puas.

—000—

Pagi ini aku berniat berbelanja peralatan untuk bayiku disebuah swalayan. aku mengambil(?) beberapa barang yang sekiranya aku perlukan untuk persalinanku. meskipun masih lama, tapi sedia payung sebelum hujan gpp kan? *apadeh?* memilih tempat nasi? sampai ke Dot(?) bayi.

sebuah DOT bayi berwarna biru menyita perhatianku, saat tanganku akan mengambilnya sebuah tangan dari arah berlawanan juga mengambilnya.

“Mianhae, tapi “. kata-kata ku terhenti saat memandang seorang namja di hadapanku. dia terkejut sama sepertiku, tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan melepaskan tangannya dari DOT yang tadi dipegangnya.

—ooo—

“bagaimana kabarmu?”. setelah hampir 5 menit kami terdiam tanpa suara dia membuka mulutnya. aku tersenyum kikuk.

“Baik”. Jawaban seadanya. aku menunduk tidak berani menatapnya, bagaimanapun perasaan itu masih membekas di hatiku.

“berapa bulan usia kandunganmu?.”

“mungkin sama dengan usia kandungan Jessica”. aku masih belum bisa menatapnya, menyebut nama ‘Jesicca’ membuat segelincir darah kebencianku memuncak.

“sepertinya kau hidup bahagia”.

“apa pertanyaan itu wajib aku jawab? oppa sendiri terlihat bahagia”.

“aku masih mencintaimu Hyemi-a, sampai detik ini”. sebisa mungkin aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku. ini terlalu menyakitkan mendengar kata-kata itu menluncur begitu saja dari bibirnya.

“Gomawo”. satu kata yang entahlah, aku tidak tahu maksudnya keluar begitu saja dari bibirku.

“apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? apa kau sudah mencintai Nichkhun sekarang? kau tidak ingin merajut kembali mimpi-mimpi kita?”. aku menatapnya, lebih tepatnya kearah 2 bola matanya yang selalu aku sukai.

“aku rasa kita bukan lagi seorang remaja yang tengah bergalau oppa. saat ini kita sama-sama akan menjadi orang tua. aku sedang mengandung anak Nichkhun oppa, dan kau sudah mempunyai Jesica yang juga tengah mengandung anakmu, terlalu egois jika kita masih membicarakan soal itu”. panjang lebar aku menjelaskan padanya.

“Arasheo, aku sudah bisa menebaknya dari awal, kau memang tidak akan bisa lepas dari Nichkhun, semenjak pernikahan kalian dulu, aku memang sudah kehilanganmu Hyemi-a”. aku tersenyum getir mendengar ucapannya, aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“percayalah pada takdir oppa. Jesicca sangat mencintaimu, kau harus belajar mencintainya, lakukan demi anak yang tengah dia kandung, terimakasih untuk semua cinta yang pernah oppa berikan untukku, aku tidak akan pernah melupakan itu, aku hanya berusaha untuk menjadi eomma yang baik untuk anakku nanti. lupakan masa lalu kita oppa, biar itu menjadi sebuah kenangan, aku mencintai Nichkhun oppa”. dan kata-kata terakhir itu, tiba-tiba saja keluar dari mulutku. dia tersenyum masih senyum yang dulu.

—–ooo—–

Sepanjang perjalanan pulang aku terus tersenyum. entahlah ada sedikit kepuasan dan kelegaan dihatiku. benar, sudah tidak ada beban saat meninggalkan Donghae oppa apakah aku benar-benar sudah mencintainya? Nichkhun Horvejkul? suamiku?.

Aku memasuki rumah besarku dengan masih seuntai senyum melekat dibibirku.

“apa Nichkun oppa sudah pulang?” fikirku saat masuk ke kamarku yang terbuka. aku sedikit terkesima dengan pemandangan didepanku. Nichkhun oppa tengah menata sebuah tempat bayi di samping ranjang kami(?).

“kau sudah pulang?”. dia melirikku sekilas dan kembali asik dengan kegiatannya.

“oppa, anak dalam kandunganku akan lahir 6 bulan lagi, kenapa oppa sudah membuatkannya tempat seperti itu? itu terlalu berlebihan menurutku”. dia mengabaikanku dan terus fokus. “ck” aku berdecak kesal, dan duduk di pinggir tempat tidur membelakanginya.

sebuah benda asing menempel dengan tiba-tiba dileherku, reflek aku menggenggamnya kuat, namun sedetik kemudian sepasang tangan Nichkhun oppa sudah bersatu didepan perutku. “kalung ini untuk anak kita nanti”. dia mengecup pelan leherku, membuatku sedikit menahan geli(?).

aku menarik sedikit kalung yang dimaksud Nichkhun oppa “KyunMi”. ucapku tertahan saat Nichkhun oppa kembali membenamkan wajahnya dileherku.

“eumm, Nichkhun Hyemi”.

“tapi nama ini untuk yeoja”.

“anak kita memang yeoja”.

“yak! darimana oppa tahu, aku saja belum mencoba tes USG”.

“tebakanku, tidak pernah meleset, seperti dulu aku selalu menebak, suatu hari nanti kau pasti akan menjadi milikku, dan sekarang kau sudah menjadi milikku”.

“siapa bilang aku sudah menjadi milikmu?”. dia memutar tubuhku menghadapnya.

“katakan kau mencintaiku”. ucapnya tepat didepan wajahku.

“katakan alasan yang tepat kenapa aku harus mencintaimu?”.

“karena aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan semuanya untukmu, aku bisa membawakan eiffel ke Seoul, atau Basilika di depan rumah kita, aku membutuhkanmu, terlebih aku membutuhkan cintamu”.

aku tersenyum dalam hati, tertawa puas akan jawabannya. ku raih wajahnya dengan kedua tanganku, mendekatkan wajahnya dengan wajahku, menyentuhkan lembut bibirku dengan bibirnya. sepertinya dia terkejut.

“so?”. dia menatapku menanti jawaban.

“Now I Love You”. ucapku sedikit tertunduk, oke sepertinya wajahku memerah. “aku mencintaimu sekarang oppa, saranghaeyo”. dia membawaku kedalam dekapannya, aku tersenyum dalam pelukannya.

sepertinya Tuhan maha adil. itulah yang aku tahu. Well, saat ini aku mencintainya, Nichkhun Horvejkul Suamiku^^

-The END-

bagaimana Squelnya? Gaje kah? hahaha, aku merasa ini squel gaje banget! ASLI! engga tau deh, gara-gara hiatus 1 minggu jadi deh ide FF ku ilang semua. ini FF masih ada Squelnya dengan judul “Park KyunMi Horvejkul Imnida”. ini akan jadi FF kolab sama Shin Je Wo eonnie, dimana nanti anaknya Fey ELfshawol Yeonghwoni eonnie juga bakalan ngeksis wakakak.

okee ditunggu RCL nya yah^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: